Senin, 06 April 2015

MEDIA FILM DALAM PEMBELAJARAN

Film pada hakekatnya merupakan penemuan baru dalam interaksi belajar mengajar yang mengkombinasikan dua macam indera pada saat yang sama. “Film adalah serangkaian gambar yang diproyeksikan ke layar dengan kecepatan tertentu sehingga menjadi urutan yang berjalan terus sehingga mengambarkan pergerakan yang nampak normal”.[1]
Media film dalam jenis media pembelajaran digolongkan kepada media slide atau filmstrip. Perbedaan keduanya adalah terletak pada runtutan gambar, dimana slide adalah media dengan gambar yang diam sedangkan film berupa gambar yang saling berkaitan sehingga dapat terlihat bergerak.
“Dengan demikian media slide adalah media belajar yang tergolong dalam gambar diam sedangkan media film adalah media pada golongan gambar gerak yang diiringi musik atau suara (audio)”.[2]
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian dari media film adalah media yang memperlihatkan gambar bergerak diiringi dengan suara atau musik (audio). Dalam pembahasan kali ini ditekankan kepada penggunaan media film dalam proses pembelajaran.
8
Membahas tentang film asumsi kita tentunya kepada film pada sinetron atau layar lebar di bioskop, namun ternyata film dapat dipergunakan sebagai alat bantu atau media dalam pembelajaran atau proses belajar yang hasilnya dapat meningkatkan minat serta berdampak kepada peningkatan hasil belajar peserta didik. Penggunaan film dalam proses belajar memang kurang popular, namun sebenarnya banyak kebaikan dan manfaat dari penggunaan media tersebut.
Proses belajar mengajar atau proses pengajaran merupakan suatu kegiatan melaksanakan kurikulum suatu lembaga pendidikan, agar dapat mempengaruhi para siswa mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
Pengertian dari belajar atau leraning adalah:  “Are relatively permanent chang in response potentiality which occurs as a result of reinforced practice”[3] maksudnya adalah, bahwa belajar menghasilkan perubahan perilaku anak didik yang relative permanent.
Pembelajaran Menurut Syeh Musthofa Al-Gholayani :
اَلتَّرْبِيَةُ هِىَ غَرْسُ الاَحْلاَقُ اَلْفَاضِلَةِ فِى نُفُوسِ النَّاشِئِيْنَ، وَسَقْيُهَا بِمَاءِ الاَرْشَادَ وَالنَّصِحَةَ، حَتَّى تَصْبِحَ مَلَكَةً مِنْ مَلَكَاتٍ النَّفْسٍ
Pendidikan adalah: pembentukan akhlak yang utama, dalam hati-hati manusia sehingga menjadikan sifat-sifat yang utama dari sifat nafsu amarah.[4]

Dari uraian diatas dapat kita ketahui bahwa keadaan individu siswa satu dengan lainnya dengan berbagai masalah yang mereka hadapi di sekolah maupun lingkungan luar sekolah menjadikan pengaruh besar terhadap minat belajar siswa.
1.      Kelebihan dan kekurangan media film
Sebagai guru tidak boleh asal dalam menggunakan medis belajar, karena tidak semua media pengajaran baik digunakan untuk semua materi pelajaran. Setiap media ada kelebihan dan kekurangannya, sehingga sebagai guru hendaknya mampu memilih media yang cocok terhadap materi yang  hendak disampaikan.
Dalam memilih media belajar sebaiknya guru memperhatikan kriteria-kriteria diantaranya: Ketepatan dengan tujuan pengajaran, artinya media pengajaran dipilih sesuai dengan dasar tujuan-tujuan instruksional yang  telah ditetapkan. Dukungan terhadap isi bahan pengajaran, karena pelajaran yang bersifat fakta, prinsip, konsep dan generalisasi sangat memerlukan media. Kemudahan memperoleh media, media yang hendak digunakan mudah didapatkan oleh guru atau setidaknya mudah dibuat. Keterampilan guru dalam mempergunakan, guru yang hendak mempergunakan media seharusnya menguasai cara penggunaannya. Karena hal tersebut sebagai dasar keberhasilan penggunaan media. Tersedia waktu untuk mempergunakannya, karena persiapan media tidak akan berguna ketika tidak ada waktu untuk menggunakan madia tersebut dalam pembelajaran. Sesuai dengan taraf berfikir siswa, maksudnya film yang digunakan harus disesuaikan dengan usia atau jenjang pendidikan. Karena tidak semua media dapat dipahami oleh semua umur.[5]
a.       Kelebihan Media Film
Seperti penjelasan diatas bahwa setiap media pelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan dalam penggunaannya sesuai dengan pada materi apa media tersebut digunakan. Media film merupakan media yang modern, disini siswa disuguhkan adegan-adegan atau gambar bergerak dengan diiringi audio. Sehingga media ini sangat merangsang penglihatan dan pendengaran siswa.
Media film memiliki kemampuan atau kelebihan ketika digunakan sebagai media dalam proses belajar mengajar di sekolah, diantaranya:
1)         Memungkinkan siswa untuk mengetahui dengan jelas dan nyata tentang suatu kejadian atau sejarah.
2)         Dapat merangsang siswa untuk melihat cerita dengan film di kemudian hari.
3)         Siswa lebih mudah mengingat jalan cerita karena anak-anak lebih suka film.
4)         Warna yang dibuat dengan meriah membuat siswa tertarik pada cerita.
5)         Dengan gambar yang bergerak dan audio menjadikan siswa lebih mudah mengingat suatu kejadian atau peristiwa yang sebenarnya dalam sebuah cerita.[6]

Dengan media film jelas bahwa materi pelajaran lebih menarik dan terlihat nyata, sehingga antara siswa satu dengan  lainnya tidak terdapat perbedaan persepsi suatu kejadian atau peristiwa dalam materi pelajaran.
Alasan berkenaan dengan manfaat madia pengajaran adalah:
1)      Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa,
2)      Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga lebih dapat mudah dipahami siswa, dan memungkinkan siswa dapat memahami tujuan pengajaran dengan lebih baik.
3)      Metode pengajaran akan lebih bervariatif, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru saja, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi untuk guru kelas yang mengajar seharian penuh.
4)      Siswa akan lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, namun juga aktivitas lain seperti: mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain sebaginya.[7]

Pada mulanya  media hanya berfungsi sebagai alat bantu yang memperlancar dan mempertinggi proses belajar mengajar. Dalam usaha memanfaatkan media sebagai alat bantu ini Edgar Dale membuat klasifikasi pengalaman menurut tingkat dari yang paling kongkret sampai yang paling abstrak, klasifikasi tersebut dikenal dengan nama kerucut pengalaman (cone of experience)
Gambar. Kerucut Pengalaman E. Dale
Dalam hal ini media dapat membantu proses berfikir kongkret dan abstrak karena memiliki nilai praktis sebagai berikut:
1)      Membuat kongkret konsep yang abstrak, misalnya dalam menjelaskan tentang sejarah baik sejarah nasional atau islam.
2)      Membawa karakter tokoh sejarah kedalam ruang kelas dengan menggunakan film tersebut.
3)      Menampilkan suasana yang lampau atau sekarang sudahtidak ada lagi..
4)      Menampilkan suasana imajinasi keadaan dimasa mendatang.
5)      Mengamati gerakan yang terlalu cepat, misalnya: gerakan fotografi (shoting) dengan gerak lambat.
6)      Memungkinkan siswa berinteraksi langsung dengan lingkungannya.
7)      Memungkinkan keseragaman pengamatan dan persepsi bagi pengalaman belajar siswa.
8)      Memberikan kesan perhatian individual untuk seluruh kelompok belajar.
9)      Menyampaikan informasi belajar secara konsisten dan dapat diulang atau disimpan sesuai kebutuhan.
10)  Menyampaikan pesan atau informasi belajar secara serempak, mengatasi batasan waktu maupun ruang.
11)  Mengontrol kecepatan belajar siswa.[8]

Menurut Badura dan Waters seperti yang dikutip Slameto dalam bukunya Belajar dan faktor yang mempengaruhinya, penguasaan tingkah laku atau response baru pertama-tama adalah hasil dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam waktu yang bersamaan (kontiguitas) yang diamati. Kuat lemahnya response itu bergantung pada penguatan (reinforcement).[9]
Menurut teori ini, yang penting adalah bagaimana response itu mula-mula dipelajari. Proses tersebut akan lebih jelas dengan memperhatikan 3 macam pengaruh yang berbeda dari pengalaman (observasi) dan peniruan.
Jenis pengaruh yang berbeda dari pengalaman adalah:
1)      Modeling effect
Dengan jalan mengamati dan meniru, siswa menghubungkan tingkah laku dari model dengan response yang baru bagi dirinya, response yang pertama kali dilakukannya. Jelas, model itu harus menunjukkan tingkah laku yang baru bagi siswa tetapi dapat dilakukan oleh siswa tersebut.
2)      Disinhibitory effect
Dengan mengamati dan meniru suatu model, seorangsiswa dapat memperlemah atau memperkuat response-response terlarang yang telah dimiliki. Pada umumnya, tingkah laku agresif tidak dibenarkan, terlarang. Kalau siswa mengamati model yang menunjukkan tingkah laku agresif, maka larangan itu diperlemah dan akibatnya siswa tidak saja akan melakukan tingkah laku agresif lainnya.
3)      Eliciting effect
Dengan mengamati dan meniru suatu model, siswa menghubungkan tingkah laku dari model dengan response-response yang telah dimilikinya. Dengan begitu response-response itu ditimbulkan. Misalnya kerja bakti, memberikan uang derma, makan makanan yang biasanya tidak dipilih.[10]

b.      Kekurangan media film
Sebagai media belajar, film juga memiliki kelemahan, kelemahan tersebut diantaranya:
1)      Tidak baik digunakan untuk materi yang menceritakan tentang Allah SWT dan nabi Muhammad SAW karena dapat menimbulkan salah pengertian siswa, hal ini dikarenakan keduanya tidak dapat digantikan oleh siapa dan apapun untuk menghindari presepsi atau anggapan yang tidak sesuai dengan keadaan aslinya, baik Allah SWT maupun Nabi Muhammad SAW.
2)      Media film jika digunakan untuk aplikasi gerakan senam atau tari akan menghasilkan gerakan yang terbalik. Sehingga perlu penjelasan khusus dalam menggunakan media film dalam latihan tari atau senam.

2.      Manfaat menggunakan media film
Tidak semua film dapat digunakan sebagai media dalam belajar, secara garis besar cirri film yang dapat dipergunakan dalam media belajar adalah: menarik perhatian siswa, menarik minat siswa dan autentik, up to date, sesuai dengan tingkat kematangan anak, bahasanya baik dan tepat, mendorong keaktifan siswa.
Dalam menggunakan media film pada pembelajaran sangat banyak sekali manfaat yang didapatkan, terutama:
a.       Mengembangkan pikiran dan pendapat para siswa
b.      Menambah daya ingat pada pelajaran
c.       Mengembangkan daya fantasi anak didik
d.      Menumbuhkan minat dan motivasi belajar.
e.       Mengatasi pembatasan dalam jarak waktu
f.       Memperjelas hal-hal yang abstraks
g.      Memberikan gambaran pengalaman yang lebih realistis[11]

Banyak sekali manfaat dan keunggulan media film, namun semua itu tidak akan bermanfaat dengan baik apabila tidak didukung dengan kemampuan guru dalam menggunakan media tersebut.  Untuk menjadi guru yang standar para peneliti dari Departemen Pendidikan Amerika memberikan gambaran guru yang baik dengan ciri sebagai berikut:
a.       Selalu menjadikan masyarakat sekolah menjadi tempat yang paling baik bagi anak-anak muda.
b.      Mereka yakin akan manfaat pekerjaannya dan senantiasa meningkatkan kualitas pekerjaannya tersebut.
c.       Mereka memiliki seni dalam hubungan manusiawi yang diperolehnya tentang bekerjanya psikologi, biologi, dan antropologi kultural di dalam kelas.
d.      Mereka berkeinginan untuk terus tumbuh. Dan mereka juga yakin dibawah pengaruhnya sumber-sumber manusia dapat berubah nasibnya.
Langkah-langkah yang diperlukan dalam menggunakan media film adalah:
a.       Langkah persiapan guru
Pada langakah ini guru menetapkan tujuan yang akan dicapai dari pengunaan film sehubungan dengan pelajaran yang akan dijelaskan melalui film tersebut.
b.      Langkah persiapan kelas
Pada langkah kedua ini bukan hanya menyiapkan  perlengkapan yang dibutuhkan untuk pemutaran film saja, tetapi juga persiapan siswa agar dapat mengikuti, mencatat, menganalisa, mengeritik dan lain sebagainya dari isi film pendidikan tersebut.
c.       Langkah penyajian film
Penyajian film dapat diputar ulang, bisa pula diputar dengan kecepatan rendah, bila terdapat hal-hal yang sangat penting untuk dianalisis.



d.      Langkah lanjutan dan aplikasi
Sesudah pemutaran film perlu adanya kegiatan belajar sebagai tindak lanjut dari penggunaan film tersebut, misalnya diskusi, laporan, tes, atau tugas lain.[12]



[1] Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar mengajar, Sinar Baru Algensindo, 2010, hlm102
[2] Nana Sudjana, op. cit, hlm116
[3] Elaine B. Johnsons, Contextual teaching & Leraning,( California: Corwin Press, 2002) hlm. 18.
[4] Syaih Musthofa Al-golayani. `Idhotunnasyi`ina,(Pekalongan:Raja Murah, 1913) hlm. 189.
[5] Ibid, hlm. 4-5
[6] Ibid, hlm. 116-117
[7] Nana Sudjana, op.cit, hlm 2
[8] Materi inservice training KKG-MGMP 2001, Media Pembelajaran, Departemen Agama RI, 2001, hlm 177-178
[9] Slameto, Belajar Dan Faktor Yang Mempengaruhinya, Jakarta, Rineka Cipta, 2010, hlm.21
[10] Ibid, hlm 22
[11] Nana Sudjana, op.cit, hlm 102-103
[12] Ibid, hlm 103

Tidak ada komentar:

Posting Komentar